Sabtu, 18 September 2021

Sajadah Rindu

Sajadah Rindu

Rindu adalah tumpukan administrasi yang terarsipkan.

Begitulah bisikan seorang pria kepada Tuhannya, ia rela untuk tidak memiliki kekasih pada zaman ini, lirikan aneh dan nyeleneh dari setiap orang yang mendengar dengan kedua telinga pun nampak tatkala kata "iya aku ga punya pacar" terucap dari mulut tipis pria ini.

Pria ini, memiliki pandangan lain terhadap perilaku pacaran, menurutnya, orang yang berpacaran adalah orang yang tidak memiliki tempat untuk bercerita dan mendapat perhatian, dan -bagi pria ini- semua itu sudah terafirmasi, pria ini memiliki sajadah untuk bercerita, walaupun ungkapan hatinya tak langsung terbalaskan saat itu pun, bercerita dengan-Nya merupakan pilihan terbaik, tak ada kata menyalahkan walaupun kesalahan yang dibuat sangatlah besar.

Yang unik adalah, pria ini seringkali menyebut-nyebut wanita yang diinginkannya sembari sedikit tertawa dengan rasa tak percaya diri, pria ini sangat merindukan wanita tersebut seraya mendambakan bersama dengannya di dunia dan akhirat -oopsss jangan berlebihan…. Kamu harus Bersama dengan-Nya, karena hanya dengan-Nya lah kamu akan mendapatkan segalanya- keinginan pria ini begitu bergejolak karena sebuah foto yang ada pada status whatsapp tidak akan menyembuhkan kerinduan tersebut.

Penumpahan rindu terhadap Wanita itu selalu disebut berulang kali olehnya, dengan beberapa kali mengulas dan mengkaji sifat sama’ Allah SWT, dia yakin Allah selaku Tuhannya mendengar setiap bisikan dan ke-kakuan lidahnya saat menyebut nama Wanita tersebut….

Sayang, islam memiliki strategi yang baik daripada yang di pikirkan pria ini, menikah adalah jalan terbaik untuk menuangkan rindu yang sudah terisi penuh oleh doa-doa yang tertanam di langit-langit cinta…..

Sajadah Rindu……………………………… 

Sabtu, 11 September 2021

Zakat, Antara Ketuhanan dan Kemanusiaan

 Zakat, Antara Ketuhanan dan Kemanusiaan


    Refleksi mengenai zakat sangat diperlukan, model ibadah jenis sosial ini merupakan sebuah bentuk kemanusiaan dan ketuhanan, di satu sisi zakat merupakan rukun ketiga dalam rukun islam, jadi jika seseorang menunaikan zakatnya maka ia telah menunaikan kewajibannya -kira-kira seperti itu sederhananya jika kita melihat zakat sebagai bentuk ketuhanan- sebagai seorang muslim.

    Lalu, jika kita melihat kedalam sudut-sudut pedesaan maupun perkotaan, kita pasti akan menemukan individu atau keluarga yang dilanda kemiskinan-walaupun ia adalah muslim dan tinggal di daerah yang penuh dengan orang muslim- sebegitu miskinnya, bahkan bisa dikatakan fakir yakni orang yang tidak memiliki harta dan tidak memiliki pekerjaan yang mencukupi kebutuhan hari-harinya, jadi, buktinya walaupun zakat itu sebagai solusi atas kemiskinan umat, namun pada kenyatannya-misalkan Indonesia yang penuh dengan muslim- angka kemiskinan dari umat muslim itu sendiri terus meningkat, hal semacam ini tidak bisa kita salahkan pada zakat itu sendiri, karena awalnya zakat adalah bentuk penunaian rukun islam yang ketiga.

    Maka, dapat dipastikan yang salah adalah pengelolanya, atau manusianya, kurangnya pengetahuan mengenai literatur zakat itu sendiri dapat menyebabkan pengelola zakat tidak bisa secara maksimal mengentaskan kemiskinan itu sendiri, karena zakat tidak bebas nilai artinya jika ada kekurangan dalam pemanfaatan atau pendayagunaan zakat maka yang salah adalah manusianya bukan zakat itu sendiri, pembahasan ini lebih lanjut dalam buku Humanisme ZIS : Risalah 700 Umat Terberdayakan, sebuah buku yang saya susun beserta kawan-kawan LAZIS Manajemen Dakwah, dan saya sendiri mencoba untuk memperluas literatur zakat itu sendiri dengan membuat sebuah istilah baru yakni zatmatics, sehingga zakat tidak lagi dipandang sebagai sebuah bentuk ibadah belaka.

    Tulisan ini, singkat saja, saya hanya ingin memantik kawan-kawan agar mau memajukan sebuah ilmu pengetahuan terutama yang masuk kedalam kategori ilmu-ilmu keislaman. Jadi zakat itu dapat dikatakan sebagai bentuk kemanusiaan dan bentuk ketuhanan. 

Selasa, 20 Juli 2021

Manajemen nDa Wah

 

Manajemen nDa Wah 

      Oleh : Ramdhani Cartes

        Sudah lama rasanya tidak menulis, dan tidak membuat berisik. saya doakan semoga setiap pembaca diberikan sehat jasmani dan ruhani, terutama pada hari-hari ini, dimana kita sulit membedakan antara konspirasi dan kopi, tongkrongan dan istana kepresidenan -seakan dua ini sama, hanya yang satu selalu berisik namun tak pernah didengar-, kita juga sulit membedakan antara mahasiswa dan rokok sampoerna.

           Dengan tidak terlalu bertele-tele dalam pengantar, saya akan menulis mengenai “ Manajemen nDa Wah “ ya, tentunya dari sudut pandang mahasiswa Manajemen Dakwah, banyak sekali keunikan dan kebisingan yang ada jurusan ini, dimulai dari 100,01 % mahasiswa nya salah jurusan sampai pada pengkaderan konsentrasi.

      Tulisan ini ditulis oleh saya sebagai mahasiswa manajemen dakwah untuk mengkritik mahasiswa manajemen dakwah, jadi tidak saya tujukan untuk selain mahasiswa, jadi kalaupun ada yang tidak berkenan, atau tidak sependapat, silahkan saja, toh kita kaum intelektual sudah terbiasa dengan perbedaan pendapat.

                Ada beberapa point yang ingin saya tulis, tentunya point ini adalah point yang menggelitik pikiran saya, dan karena tidak ada wadah untuk menuangkan pikiran tersebut, akhirnya saya memilih mengungkapkannya dalam bentuk tulisan, lho kan ada hmps, ada KOPI MD ? ssstttt biarlah mereka bising dengan politik dalam diskusinya.

                Pertama, fenomena diskusi, apa itu manajemen dakwah ? sebuah jurusan ? bidang keilmuan ? atau hanya istilah ? jika anda tanyakan hal ini kepada mahasiswa MD yang sedang presentasi, maka anda akan mendapatkan jawaban “ baik, karena bidang keilmuan kami masih terbatas, maka kami serahkan kepada bapak/ibu dosen ” ya itulah jawabannya.

            Ya, itu jawabannya, jawaban yang sangat spektakuler…. Karena kebiasaan presentasi seperti inilah, jurusan ini -terutama mahasiswanya- saya pikir tidak berani melakukan ekspansi pengetahuan, hingga saat inipun ketika kita bertanya perihal definisi antara kata manajemen dan dakwah, jawaban yang diajukan selalu jawaban lughowi atau etimologi, yaaa sedikit ditambah istilah dan argument para ahli.

        Saya sangat maklum, jika kondisi ini terjadi pada mahasiswa baru di manajemen dakwah, karena pola pikir bawaan dari SMA -atau sederajat- adalah hafalan, tapi jika kondisi tersebut terjadi pada mahasiswa semester 6 -misalnya- sangatlah tidak wajar. Problemnya adalah, menurut saya pertama salah jurusan, kedua, males baca buku, ketiga malas diskusi.

       Sekarang ini, kita selalu nyaman dengan pemikiran akhirnya kita tak pernah menghasilkan pikiran, dan jika ditanya ” bagaimana cara menghasilkan pikiran ? ” jawabannya ialah ‘ pahami pemikiran ‘, karena pikiran ialah sesuatu yang kita hasilkan sendiri melalui pemahaman pemikiran, karena bagaimana mungkin kita akan membuahkan pikiran jika tak ada pemikiran dalam dimensi pengetahuan kita.

        Yang bikin saya betah di Ciputat itu 2, Peradaban intelektual dan UIN Jakarta, kalo ga ada peradaban intelektual mungkin ga ada UIN, udah pasti ciputat ga terkenal, namun, hari ini itu hanya legenda yang digunakan oleh para aktivis untuk menggait mahasiswa baru sebagai kadernya. Lho kok pas masuk ke MD gaya presentasinya begini ya ? apanya yang peradaban intelektual kalo gini, presentasi baca makalah, terlalu banyak nanya dilarang, gimana sih ?

        Kedua, kosentrasi, ada percakapan menarik antara mahasiswa dan mahasiswi manajemen dakwah semester 4, ” mau ngambil konsentrasi apa cuy ? “ temannya menjawab ‘ … lah, lu ga dengerin apa yang dikasih tahu bu ……. Sama pak …….. peluang kerjanya terjamin ‘ hal lucu dalam percakapan itu adalah yang memberi jawaban tidak tahu ada 2 konsentrasi lainnya yang juga sama-sama memiliki prospek kerja yang jelas.

           Hal seperti ini, menurut saya seperti seorang atheis yang sedang memilih agama yang cocok untuk dirinya, dan yang memberi jawaban adalah orang yang hanya memaham 1 agama saja -agama apapun itu- sehingga, seorang atheis tersebut akan cepat berkesimpulan bahwa agama tersebutlah yang sangat berpotensi masuk surga.

      Maka, hemat saya, sebaiknya jika anda akan memilih konsentrasi, cobalah untuk tidak mempertanyakan 1 konsentrasi saja, tapi coba pertanyakan ketiga konsentrasi yang ada, hingga pada akhirnya, anda tidak hanya akan menjadi seorang pegawai saja, tapi anda mampu mengembangkan keilmuan anda di jurusan manajemen dakwah.

              ” Jangan melihat cinta atas paduan huruf diatas kertas “, kira-kira kalo dibikin tulisan seperti itu, jadi kalo seperti itu, kita tidak akan menemui status ontologis disetiap konsentrasi yang ada di jurusan ini.

 

 

 

                Mungkin itu dulu aja tulisan saya, besok-besok saya bikin tulisan lagi namun lebih tertuju pada satu konsentrasi yang saya geluti di manajemen dakwah, terutama saya akan menulis isu-isu kontemporernya, terakhir, saya ingin bilang, jurusan ini sebetulnya potensial untuk dikaji baik secara agama maupun filosofis, namun, semuanya kembali ke kita sebagai mahasiswa, perubahan tidak hanya sesuatu yang berbau politis, seperti perubahan Ruu KUHP atau lainnya, tidak hanya itu, ilmu politik itu mungkin aja ga ada kalo ga ada sosiologi, maka, ayo kita mulai dengan sesuatu yang dekat dengan kita, sebuah bidang ilmu teoritis dan praktis, yang kesemuanya memiliki konsentrasi jelas, yakni Manajemen Lembaga Keuangan Syariah, Manajemen Haji Umroh, dan Manajemen Zakat Infaq Shadaqah Wakaf.

               

Goodbye Instagram: A Soul's Journey to Allah That Was Paused

    Aku sepenuhnya sudah meyakini kebenaran bahwa hakikat diriku adalah jiwaku. Jiwaku ini yang tidak sempurna berasal dari Allah. Ini ada...